Home > Info Ringan > Mengapa Banyak tidur saat Puasa, Badan jadi Tambah Loyo ??

Mengapa Banyak tidur saat Puasa, Badan jadi Tambah Loyo ??

August 28, 2009

Jika Anda memilih banyak tidur sebagai solusi untuk aktivitas puasa Anda. Benarkah banyak tidur tubuh kita jadi segar atau malah menjadi loyo?Ini dia jawabannya.

Saat Bulan puasa , pastinya pola makan juga turut berubah, meski bisa dibilang perubahan tersebut hanya temporer. Perubahan ini lebih banyak dialami sistem pencernaan kita, di mana sebelum berpuasa, sistem pencernaan bekerja ekstra keras, namun dengan berpuasa, kerja pencernaan menjadi berkurang, sehingga asam lambung dan enzim pencernaan pun ikut beristirahat.

Sengaja membiarkan perut kosong cenderung membuat orang lemas dan lesu, sehingga saat berpuasa lebih memilih untuk berdiam diri dan menghindari aktivitas fisik. Dan tidur menjadi pilihan yang tepat agar puasa berlalu tanpa terasa.

Tapi tahukah Anda, jika tidur dan tak melakukan aktivitas saat berpuasa justru membuat Anda lemas. Menurut Dr. Ebrahim Kazim, dokter dan sekaligus pendiri Islamic Academy Trinidad, dalam bukunya ‘Further Essays on Islamic Topics’, menyebutkan duduk bengong tanpa melakukan aktivitas apapun akan membuat rasa lapar dan lemas lebih terasa. Rasa lemas ini akibat penurunan gula darah yang berlebihan, di mana gula darah yang terlalu rendah justru membuat kita bertambah lemas dan perut keroncongan.

Gula darah rendah otomatis membuat otak lebih sulit berkonsentrasi. Ini karena otak yang sudah terbiasa mendapat energi dalam bentuk glukosa berkurang, dan pengurangan aliran glukosa ke jaringan otak akan membuat kita sulit berkonsentrasi. Hal ini hanya terjadi pada awal kita menjalani puasa, namun rasa pusing dan sulit konsentrasi ini akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari kita menjalani puasa. Yang penting jangan banyak bengong dan tetap beraktivitas sesuai porsinya.

Tetap aktif secara fisik saat berpuasa memompa tubuh untuk mengeluarkan hormon stres. Hormon ini yang memeras gula keluar dari cadangan hidrat arang tubuh, dan membuat gula baru dari jaringan cadangan tubuh lainnya seperti jaringan lemak.

Selain penurunan gula darah, perubahan jam tidur juga mendukung rasa kantuk yang kerap menyertai saat berpuasa. Bangun dini hari dan bersantap sahur otomatis akan mengubah daur fisiologi hormon yang mencapai puncak produksinya dari tengah malam, yakni growth hormone (hormon pertumbuhan) dan cortisol hormone.

Hormon pertumbuhan berfungsi meningkatkan penghancuran asam amino dari darah ke otak yang membantu pemulihan sel saraf. Sementara hormon kortisol berperan membantu meredam stres saat bangun pagi, mengurangi peradangan, dan rasa letih.

Selain perubahan pola tidur, faktor ‘psikologis sistem pencernaan’ juga perlu diperhitungkan. Makan pada jam yang seharusnya kita tidur adalah sesuatu yang belum bisa diterima sistem pencernaan, karena itu santap sahur harus dibedakan dengan sewaktu kita makan biasa.

Makan secukupnya dengan kandungan gizi tepat dan jika dibutuhkan bisa mengkonsumsi suplemen. Ingat, jangan memberi tugas terlampau berat dan terlalu buru-buru pada saluran pencernaan yang ‘masih tidur’.

Dr Kazim juga menyebutkan saat berpuasa, tubuh manusia akan ‘memanggil’ hormon endorphins (hormon yang mengurangi sensasi rasa sakit dan gangguan emosional), yang memberikan rasa menenangkan secara psikologis.

Ketenangan ini makin diperkuat dengan aktivitas keagamaan yang dilakukan saat Ramadhan yang didukung disiplin dan kontrol diri dari segala perbuatan mungkar. Puasa membuat kita jauh lebih tenang, damai, dan ikhlas. Selain itu alangkah baiknya jika kita mengisi Ramadhan kita akan hal-hal yang lebih bermanfaat dan berguna.
Jadi, apakah Anda masih akan menabadikan kebiasaan banyak tidur saat puasa?(islamonline/rit)

Sumber : di sini

Categories: Info Ringan Tags: , ,
%d bloggers like this: