Home > Muslimah > Wanita, Mutiara yang Begitu Berharga

Wanita, Mutiara yang Begitu Berharga

August 27, 2008

Oleh Ummu Ahmad Rifqi

Wanita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan laki-laki. Dia adalah mahkota kehidupan dan perhiasan dunia, yang menjadi pendamping hidup laki-laki, sekaligus ujian baginya. Tak dapat dipungkiri, dibalik kelemahan dan kelembutannya, tersimpan andil penting yang dapat mendorong seorang laki-laki menjadi ornag sukses, atau sebaliknya. Oleh karena itu, salah satu faktor bagi kesuksesan dan kebahagiaan kaum Adam adalah bagaimana cara dia menjaga mutiara kehidupannya tersebut.

ISTRI SHALIHAH, HARTA BERHARGA BAGI LAKI-LAKI SHALIH

Sesungguhnya wanita shalilah merupakan tempat berteduh bagi laki-laki shalih pada saat merajalulanya beragam cobaan dan fitnah di tengah masyarakat. Cobaan, fitnah dan tekanan kehidupan negative member pengaruh sangat dahsyat, hingga menyeret menusia ke dalam kehinaan. Tidak ada yang bisa selamat dari cobaan dan tekanan itu, kecuali orang yang menjadikan syari’at Allah sebagai pedoman hdup dan penentu hokum setiap urusannya.
Sejak dahulu, kaum wanita merupakan sumber fitnah yang paling menghancurkan bagi masyarakat, dan akan terus seperti itu, selama ada sejarah kehidupan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan fitnah tersebut dengan sabdanya (yang artinya):
Aku tidak meninggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi pria daripada wanita. (Muttafaqun ‘alaih).

Dan tidak ada yang paling membahagiakan dalam hidup kaum laki-laki, melainkan hidup berkeluarga bersama istri yang shalihah. Secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat kepada wanita shalihah tentang kebaikan; karena wanita shalihah memberi pengaruh sangat positif, baik terhadap pendidikan anak, keluarga, dan diri sang suami.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Tsauban, ia berkata: Ketika turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya), “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS. At-Taubah: 34)

Saat itu kami sedang turun bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Sebagian sahabat berkata, “Telah turun ayat mengenai emas dan perak. Namun, bila ada harta selain itu yang lebih baik, maka kami akan menyimpannya.” Maka rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Harta yang lebih baik adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur dan istri shalihah yang membantu seorang mukmin atas keimanannya.”

SIAPAKAH ISTERI SHALIHAH?

Terbayang di benak kita, istri shalihah adalah wanita yang senantiasa menjaga shalat, banyak melakukan shalat sunnah, berpuasa bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji, rajin melaksanakan ibadah umrah, tak pernah berhanti berdzikir kepada Allah dan komitmen menjaga hijab dan memelihara rumah.
Pemahaman seperti itu tidak salah –insya Allah- bila dilihat dari sisi kepentingan pribadi wanita itu sendiri. Akan tetapi, pemahaman itu masih kurang sempurna bila membaca hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan penjelasan beliau tentang definisi wanita shalihah.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukminsetelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihah. (Yaitu), bila ia menyuruhnya maka ia mentaatinya, bila suami memandangnya membuat hati senang, bila bersumpah maka ia mendukungnya, dan bila ia perg maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah).
Dari Sa’ad bin Abi Waqqas rahimahullah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Empat hal yang termasuk kebahagiaan, yaitu isteri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal termasuk penderitaan adalah tetangga yang buruk, istri yang buruk, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit. (HR. Ahmad).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, wanita shalihah merupakan salah satu sebab kebahagiaan dari empat sebab kebahagiaan. Dan sebaliknya, wanita yang tidak shalihah merupakan salah satu dari empat penyebab kesengsaraan. Hadits Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berikut mempertegas hal tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah. Jika engkau memandangnya, engkau akan kagum kepadanya. Dan jika engkau pergi darinya, engkau tetap merasa aman tentang dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya, engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu. Dan jika engkau pergi darinya, engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu.” (HR. Ibnu Hibban di dalam as-Silsilah ash-Shahihah, hadits no. 282).

Tampak jelas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan empat karakteristik wanita shalihah. Keshalihah seorang wanita tidak hanya terbatas pada banyaknya shalat, puasa, haji, umrah atau banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Empat sifat atau akhlak di atas berkaitan dengan kepuasan dan ridha suami terhadap isteri, dari mulai sikap mentaati, berhias, dan menjaga diri serta memelihara harta sang suami.

Seorang wanita, apabila shalat dengan baik, qiyamul-lail hingga kakinya bengkak, selalu berpuasa, dan lisannya senantiasa bedzikir serta berhijab dengan sempurna, ia tidak bisa disebut sebagai wanita shalihah apabila ia selalu melawan suami, berpenampilan kurang sedap di hadapan suami, bersikap kurang ramah dan tidak menjaga dirinya, serta membelanjakan harta suami tanpa seizinnya.
Oleh karenanya, keberadaan wanita shalihah semestinya dipandang dari tujuan utama dicipta wanita, yaitu berfungsi sebagi sumber ketenangan dan ketenteraman suami. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu dari isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar0benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir. (QS. Ar-Rum: 21)

KIAT MENJADI ISTERI SHALIHAH


Tujuan utama diciptakan wanita adalah untuk menciptakan ketenangan dan ketenteraman bagi suami dan anak-anaknya. Agar seorang wanita bisa meraih gelar isteri shalihah, maka yang harus dilakukannya adalah sebagai berikut:

1.   Berdandan yang bisa menarik perhatian suami agar sedap dipandang, taat dan patuh dengan perintah suami yang tidak berlawanan dengan ajaran Islam.
Seorang isteri shalihah harus berupaya semaksimal mungkin selalu berpenampilan yang bisa menyenangkan pandangan suami, baik penampilan lahir maupun bathin. Di samping itu, dia juga menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, lemah lembut dalam bertutur kata, senantiasa beribadah kepada Rabb-nya, jujur, istiqomah, menjauhi hal-hal yang tidak berguna, amanah serta menjauhi sifat-sifat tercela.
Wanita shalihah dengan segera memenuhi penggilan atau perintah suami sepanjang perintah tersebut tidak berlawanan dengan ajaran Islam.

2.   Mampu menjaga keluarga dan harta benda suami, baik dikala suami sedang pergi atau berada ditempat.
Isteri shalihah mempunyai tanggungjawab besar dalam menjaga keutuhan rumah tangga, tidak menyia-nyiakan amanah yang dipikulnya, yaitu keluarga dan harta suaminya. Selalu mendidik anak-anaknya di atas manhaj yang benar, melayani suami dengan penuh antusias,
mengurus anak-anaknya dengan penuh tanggungjawab, serta membelanjakan harta suami pada tempatnya. Dia tidak membelanjakan tanpa seizing suaminya, dan dia selalu menjaga kehormatan dirinya maupun kehormatan suami dan keluarganya.

3.   Tidak menempatkan atau memasukkan, seseorang yang suka melakukan penentangan kepada suami ke dalam rumah suami.
Ruh wanita shalihah akan mencari ruh lain yang serupa delam keshalihannya. Ia tidak akan terkecoh untuk bersahabat dengan wanita-wanita yang hina dina, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Ruh-ruh manusia adalah pasukan yang dikerahkan. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatu padu, dan selagi ruh-ruh itu saling mengingkari maka mereka akan berselisih. (HR. Muslim)

4.   Isteri shalihah tidak akan membiarkan masuk ke dalam rumah suaminya dan berteman dengan wanita yang suka mengejek dan melecehkan syari’at serta hokum-hukum-Nya, sebab ia mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam All-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan, maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian) tentulah kalian serupa dengan mereka. (QS. An-Nisa’: 140).
Wanita shalihah mempunyai tanggungjawab besar terhadap rumah suaminya atau rumah walinya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai manusia. Hari apakah yang paling suci? Hari apakah yang paling suci? Hari apakah yang paling suci?” Para shahabat menjawab, “Hari Haji Akbar.” Kemudian Nabi bersabda di tengah khutbahnya pada hari itu, “Adapun hak kalian atas isteri-isteri kalian, adalah hendaknya mereka tidak membiarkan orang yang kalian benci menginjak kasur (tempat duduk) kalian dan tidak member izin (masuk) kepada orang yang kamu benci.” (HR. Tirmidzi, no. 1.163 dan lainnya dari Amr bin Al-Akhwash, dalam Shahihul Jami’, no. 7.880).

Itulah sifat mulia dan karakter utama isteri shalihah menurut pandangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya tersebut.

Apabila seorang wanita telah mampu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat mulia, sesuai dengan ajaran yang bersih dari bid’ah, khurafat, takhayul, dan ia senantiasa menapaki jalan yang lurus sesuai dengan manhaj Salafush Shalih, berarti ia telah mampu merealisaskan konsep hidup bermasyarakat secara sempurna, yaitu untuk kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di kampung akhirat. Dengan sendirinya, kondisi keluarga dan rumah tangga menjadi baik dan masa depan anak-anak cemerlang penuh dengan harapan. Dan insya Allah akan muncul generasi shalih dan mulia baik laki-laki maupun perempuan.

Namun di sini saya mengingatkan kepada semua wanita, bahwa pemahaman tentang karakter wanita shalihah seeprti di atas, bukan berarti seorang wanita boleh meremehkan kewajiban shalat, puasa, ibadah haji dan mengeluarkan zakat harta bendanya; bahkan sebagai seorang isteri shalihah harus menunaikan kewajiban tersebut secara baik, sehingga ia bisa memperoleh surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang wanita (menjaga) shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, niscaya dia akan masuk surge dari pintu mana saja yang ia sukai.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (1/191), Abu Nu’aim (6/308) dalam al-Hilyah dari Ibnu Auf, Ibnu Hibban (4.151), dari hadits Abi Hurairah, dan ath-Thabari dalam al-Majmal (4/307) serta al-Bazar).
Ukhti muslimah, marilah kita berlomba untuk meraih derajat wanita shalihah, sehingga kita menjadi harta yang paling berharga setelah takwa kepada Allah bagi suami, dan menjadi tabungan pahala di akhirat kelak. Semoga kita mendapatkan rahmat Allah yang berupa surge, yang di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan yang belum pernah kita jumpai di dunia ini. Allahu a’lam bish shawab. (Ummu Ahmad Rifqi)

Maraji’: Az Zaujah Al-Mitsaliyah, Khaulah Darwisy, dan maraji’ lainnya.

Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 06/VII/1425H/2004M
Dipublikasikan kembali di www.salafiyunpad.wordpress.com

Sumber : di sini

Categories: Muslimah Tags: , , ,
%d bloggers like this: